Kenapa Aku Tidak Bahagia? 3 Penjelasan Psikologis Sulitnya Menerima Diri Sendiri


Source: Ethan Sykes, Unsplash


Kamu berharap setiap hari adalah hari Minggu. Kamu berharap tidak bangun kesiangan pagi itu. Kamu berharap sedang di rumah, menonton TV sambil rebahan di sofa.

Tapi kamu sekarang berada di kantor, dengan tumpukan pekerjaan, dan bos yang marah besar karena kamu datang terlambat. Kamu terdiam dan berteriak dalam hati, “Aku sangat tidak bahagia!!”

Tidak banyak yang mengetahui bahwa kesedihan dan kemarahanmu itu sebenarnya berasal dari ketidakpuasanmu terhadap dirimu. Kamu berharap akan menjumpai hal-hal baik, sayangnya hari ini kamu sedang tidak beruntung. 

Tanpa disadari, permasalahannya adalah pada mindset yang salah. Kamu belum menemukan self-acceptance untukmu.

Mengapa self-acceptance penting untukku?
Lingkungan di sekitar kita menuntut standar yang tinggi: pekerjaan yang baik, tampilan yang fancy, punya kendaraan pribadi dan rumah mewah, pasangan sempurna, anak-anak yang lucu dan menggemaskan.

Ah, sungguh terlalu.

Tanpa penerimaan diri, kamu akan menilai dirimu berdasarkan tuntutan tersebut. Tiba-tiba bakat menulismu seolah hilang karena tetangga rumah mencibir gaji atau pekerjaanmu.

Kalau penerimaan dirimu rendah, kamu akan cenderung tidak puas dengan apa yang kamu miliki saat ini dan bertanya-tanya “kenapa aku tidak sebahagia Si A dan Si Z”.  

Kamu seolah tenggelam dalam tuntutan-tuntuan yang memaksamu menjadi sosok yang sempurna. Kamu tidak bisa menerima kekuranganmu, dan merasa bahwa dunia ini sangat tidak adil untukmu. Tidak heran, banyak orang kehilangan semangat hidup karena ini, lho! Wah, gawat banget kan, Dear?

Kamu mau tau apa aja sih yang menyebabkan kenapa kadang kita susah menerima diri sendiri? Simak 3 penjelasan psikologis berikut ini, yuk!


1.    Terlalu Fokus pada Ideal-self
Ideal-self adalah konsep tentang bagaimana kita melihat diri kita berdasarkan apa yang “seharusnya”. Konsep ini mendorong kita untuk meraih kualitas yang diinginkan dan yang seharusnya dicapai.

Sayangnya, kita tidak menyadari jika kualitas tersebut sebenarnya sudah ada, namun kita lebih berfokus pada kekurangan yang kita miliki. Hal ini menyebabkan munculnya rasa tidak percaya diri serta berbagai kecemasan dan stres.

So, jangan takut bila kamu berharap bisa menjadi pelukis namun belum bisa menggambar, berlatihlah dan kenali kemampuanmu sesungguhnya.

2.    Orangtua hanya menyayangi kita bila melakukan hal baik dan marah ketika kita berperilaku buruk
Penelitian menunjukkan bahwa penyebab kurangnya kepercayaan diri adalah kurangnya empati orangtua dan umpan balik terhadap perilaku si anak sehingga anak hanya mengenali ‘dimarahi’ dan ‘disayangi’.

Mereka memahami perilakunya berdasarkan respon dari orang lain. Ketika dewasa, anak pun berusaha mencari feedback positif dari lingkungan. 

Sayangnya, tuntutan tinggi menyebabkan anak kesulitan mendapatkan ini. Hasilnya? Ketidakbahagiaan yang kerap muncul.
3.    Tuntutan dari lingkungan serta kritik pedas
Apa yang kamu rasakan ketika orang mengkritik pakaian yang kamu kenakan? Atau gaya rambut barumu mungkin? 

Kebanyakan kita akan berpikir “I am bad and they are right”. Kita pun yakin bahwa kritik itu muncul karena kita tidak berhasil memenuhi tuntutan lingkungan.

Hal ini berdampak pada hilangnya kepercayaan diri. Padahal, apa yang orang lain anggap tidak baik belum tentu tidak baik untuk kita, lho Dear!

Setelah memahami apa saja yang membuatmu tidak bahagia dan sulit menerima diri sendiri, kamu bisa menggunakannya untuk memahami dirimu sendiri. Mengenali kekuatan dan kekuranganmu, itu semua yang membuatmu unik. Terlebih, kamu juga bisa membantu orang-orang di sekitarmu untuk mengenali dan mencintai dirinya karena mereka pun unik dengan caranya. Yuk mulai menerima diri sendiri!



Referensi
https://riliv.co/rilivstory/kenapa-aku-tidak-bahagia/

Komentar

Postingan Populer